Tungka – Nagari Tungka di Sumatra Barat menyimpan kehidupan yang sederhana sekaligus penuh warna. Terletak di Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, nagari ini membentang di atas lahan seluas 14,15 kilometer persegi. Dari ibu kota kecamatan, jaraknya hanya sekitar tiga kilometer. Sementara dari Sarilamak, ibu kota kabupaten, Tungka berjarak 23 kilometer.
Meski kecil, Nagari Tungka adalah rumah bagi 4.661 jiwa. Data 2018 mencatat, jumlah laki-laki sebanyak 2.325 orang dan perempuan 2.336 orang. Angka yang hampir seimbang itu memperlihatkan betapa nagari ini hidup dalam keseharian yang seimbang pula, antara peran ayah dan ibu, antara kerja di sawah dan tugas di rumah.
Nagari Tungka terbagi ke dalam lima jorong: Dalam Nagari, Sawah Laweh, Sungai Lansek, Sialang, dan Taratak. Setiap jorong punya denyut kehidupan masing-masing, namun tetap saling terhubung dengan ikatan kekeluargaan yang kuat. Di sinilah wajah kebersamaan desa terlihat jelas: orang-orang saling mengenal, saling menyapa, dan saling menguatkan.
Dari sisi pendidikan, fasilitas yang ada memang terbatas, namun cukup untuk membentuk generasi penerus. Ada satu unit sekolah dasar, satu unit SLTP, dan satu unit SMA—semuanya negeri. Anak-anak belajar dengan semangat, meski tak sebesar fasilitas di kota. Namun di balik kesederhanaan itu, ada kebanggaan tersendiri: mereka tumbuh dengan nilai kebersamaan yang kuat, dibentuk oleh tanah tempat mereka berpijak.
Di bidang kesehatan, Nagari Tungka memiliki lima unit posyandu dan dua poskesri. Pos-pos kecil inilah yang menjadi penopang pertama masyarakat untuk menjaga kesehatan, terutama ibu dan anak. Setiap kali posyandu dibuka, selalu ada senyum para ibu yang menggendong anaknya, berharap si kecil tumbuh sehat. Sebuah pemandangan yang mungkin sederhana, tetapi sarat harapan.
Tak hanya itu, kehidupan ekonomi warga juga ditopang oleh Pasar Tradisional Situjuah Tungka. Pasar ini hadir setiap hari Selasa, menjadi tempat pertemuan warga dari berbagai jorong. Lebih dari sekadar jual beli, pasar menjadi ruang sosial: orang bertukar kabar, menukar senyum, bahkan menukar rasa rindu dengan saudara jauh.
Nagari Tungka mungkin tidak luas, tidak pula gemerlap. Namun di tanah 14,15 kilometer persegi ini, tersimpan cerita tentang kehidupan yang tulus, kebersamaan yang hangat, dan harapan yang tak pernah padam. Dari sawah hingga pasar, dari sekolah hingga posyandu, Nagari Tungka berdiri sebagai saksi perjalanan hidup ribuan jiwa yang saling menopang dalam kesederhanaan.






