Limapuluh Kota — Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kecamatan Situjuah Limo Nagari berlangsung meriah, hangat, dan penuh nilai budaya. Tidak hanya dimeriahkan pawai alegoris, upacara bendera, dan malam kesenian, perayaan tahun ini menghadirkan momen bersejarah: pembagian seragam adat untuk ratusan niniak mamak, monti, dubalang, dan cadiak pandai di Nagari Situjuah Ladang Laweh serta Nagari Tungkar.
Seragam adat tersebut disalurkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Limapuluh Kota melalui pokok pikiran (pokir) anggota DPRD dari Partai Golkar, M. Fajar Rillah Vesky, figur muda yang dikenal konsisten memperjuangkan pelestarian budaya Minangkabau.
Konsistensi Fajar bukan hal baru. Mantan wartawan Padang Ekspres itu aktif mendorong pemajuan kebudayaan sesuai amanat UU No. 5 Tahun 2017. Ia turut memperjuangkan pengelolaan situs purba Gua Lida Ajer di Nagari Tungkar serta kawasan sejarah PDRI di Lurah Kincie, Situjuah Batua.
Selain itu, ia menginisiasi pelatihan adat bagi Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan program peningkatan kapasitas pemangku adat melalui penyediaan seragam adat.
Pembagian seragam adat berlangsung pada 13 Mei dan 15 Mei, dihadiri jajaran Disdikbud Limapuluh Kota bersama Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha.
Wali Nagari Situjuah Ladang Laweh, Mawardi Dt Sinaro Nan Paneh, bersama Ketua KAN, Erman Dt Tan Marajo Nan Malengong, menyampaikan apresiasi tinggi atas realisasi program tersebut.
“Tidak sia-sia rasanya, kita mendudukkan putra Situjuah Limo Nagari di DPRD. Fajar sudah menunjukkan kinerja yang berpihak pada nagari dan pelestarian adat, terutama bagi niniak mamak, monti, dubalang, dan cadiak pandai,” ujar keduanya.
Dukungan serupa datang dari Ketua KAN Tungkar, HM Dt Bandaro Kuniang, dan Wali Nagari Tungkar, Yusrizal Dt Pado. Mereka mencatat bahwa sepanjang tahun ini, dua pokir Fajar telah direalisasikan: pelatihan adat dan seragam adat.
“Kami berterima kasih kepada anak kemenakan kami, Fajar Rillah Vesky,” ungkap mereka.
Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha, turut memberi dukungan penuh kepada Fajar. Ia menilai Fajar sebagai figur yang tulus membangun nagari, meski pada Pilkada sebelumnya bukan bagian dari barisan pendukungnya.
“Orang-orang yang tulus membangun nagari harus kita dukung. Penyerahan seragam adat ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak menghilangkan kegiatan di Situjuah Limo Nagari,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Fajar memuji sikap pasangan Safni-Rito yang tidak membawa dendam politik pasca Pilkada.
“Saya bukan pendukung Safni-Rito pada Pilkada lalu. Namun mereka tidak berkecil hati dan tidak menaruh dendam. Buktinya, pelatihan adat dan seragam untuk niniak mamak dapat terlaksana di Ladang Laweh dan Tungkar. Insya Allah, tahun depan berlanjut ke Situjuah Batua dan nagari lain di Dapil III,” ujar Fajar.
Perayaan HUT RI ke-80 di Situjuah Limo Nagari tahun ini tidak sekadar seremoni, tetapi simbol penguatan adat, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan budaya Minangkabau.






